28 Mart 2015 Cumartesi

Haramnya Mengadu Domba iaitu Memindahkan Kata-kata Antara Para Manusia Dengan Maksud Hendak Merosakkan

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحيمِ
68.11************* }  هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَميمٍ {
Allah Ta'ala berfirman:   

"Jangan pula engkau mematuhi - orang yang suka mencela, berjalan membuat adu domba."
(al-Qalam: 11)
{ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقيبٌ عَتيدٌ }.
Allah Ta'ala berfirman pula:

"Tiada seseorang itu mengucapkan sesuatu perkataan, melainkan di sisinya ada malaikat Raqib - pencatat kebaikan - dan 'Atid pencatat keburukan." (Qaf: 18)

وعَنْ حذَيْفَةَ رضي اللَّه عنهُ قالَ : قال رسُولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم :
« لا يَدْخُلُ الجنةَ نمَّامٌ » متفقٌ عليه .

1533. Dari Hudzaifah r.a. katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak dapat masuk syurga seseorang yang gemar mengadu domba." (Muttafaq 'alaih)

وعَنْ ابن عَباسٍ رضي اللَّه عَنْهُمَا أنَّ رَسُول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : مرَّ بِقَبريْنِ فقال : «إنَّهُمَا يُعَذَّبان ، وَمَا يُعَذَّبَانِ في كَبيرٍ ، بَلى إنَّهُ كَبيرٌ : أمَّا أحَدُهمَا ، فَكَانَ يمشِي بالنَّمِيمَةِ، وأمَّا الآخرُ فَكَانَ لا يسْتَتِرُ مِنْ بولِه » .
متفقٌ عليه ، وهذا لفظ إحدى روايات البخاري .
 قالَ العُلَماءُ : معْنَى: «وما يُعَذَّبَانِ في كَبيرٍ» أيْ كبير في زَعْمِهما وقيلَ: كَبِيرٌ تَرْكُهُ عَلَيهما.

1534. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. berjalan melalui dua buah kubur, lalu bersabda:

"Sesungguhnya dua orang mati ini disiksa, tetapi tidaklah mereka disiksa karena kesalahan besar. Ya, tetapi sebenarnya besar juga. Adapun yang seorang di antara keduanya itu dahulunya -ketika di dunia - suka berjalan dengan melakukan adu domba, sedang yang lainnya, maka ia tidak suka menghabiskan samasekali dari kencingnya - yakni di waktu kencing kurang memperdulikan kebersihan serta kesucian dari najis."

Muttafaq 'alaih. Ini adalah lafaz dari salah satu riwayat Imam Bukhari.

Para ulama berkata bahwa maknanya: "Tidaklah mereka itu disiksa karena melakukan kesalahan yang besar," yakni bukan kesalahan besar menurut anggapan kedua orang tersebut. Ada yang mengatakan bahwa itu merupakan hal besar - berat - bagi itu meninggalkannya.

 وعن ابن مسْعُودٍ رضي اللَّه عنْهُ أنَّ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال :
« ألا أُنَبِّئكُم ما العَضْهُ ؟ هي النَّمِيمةُ ، القَالَةُ بيْنَ النَّاسِ » رواه مسلم .
 « العَضْهُ » : بفَتْح العين المُهْمَلَةِ ، وإسْكان الضَّادِ المُعْجَمَةِ ، وبالهاءِ على وزنِ الوجهِ، ورُوي : « العِضَةُ » بِكسْرِ العَيْنِ و فَتْحِ الضَّادِ المُعْجَمَةِ عَلى وَزْنِ العِدَةِ ، وهِي : الكذِبُ والبُهتانُ ، وعَلى الرِّواية الأولى : العَضْهُ مصدرٌ ، يقال : عَضَهَهُ عَضْهاً ، أي : رماهُ بالعَضْهِ .

1535. Dari Ibnu Mas'ud r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Tahukah engkau semua, apakah kedustaan besar itu? Yaitu Namimah atau banyak bicara adu domba antara para manusia." (Riwayat Muslim)

Al'adhha dengan fathahnya 'ain muhmalah dan sukunnya dhad mu'jamah dan dengan ha' menurut wazan Alwajhu. Ada yang mengatakan Al'idhatu dengan kasrahnya 'ain dan fathahnya dhad mu'jamah menurut wazan Al'idatu, artinya ialah kedustaan serta kebohongan besar. Menurut riwayat pertama, maka al'adhhu adalah mashdar, dikatakan: 'adhahahu 'adhhan artinya melemparnya dengan kedustaan atau pengadu-dombaan.



Hiç yorum yok:

Yorum Gönder